BULUKUMBA, Beranda.News-Bulan suci Ramadan tidak hanya dimaknai sebagai waktu menahan lapar dan dahaga, tetapi juga sebagai momentum refleksi diri dan perjuangan batin yang sering luput dari perhatian.
Hal itu diungkapkan oleh Muhammad Fadhil dalam tulisannya berjudul Ramadhan dan Jihad yang Paling Sunyi.
Ia menjelaskan bahwa ketika orang mendengar kata jihad, bayangan yang muncul biasanya identik dengan perjuangan besar yang dramatis, seperti keberanian di medan perang atau pengorbanan para sahabat dan ulama dalam menjaga ilmu serta kebenaran.

Also Read
Namun, menurutnya, Islam juga mengenal bentuk jihad lain yang jauh dari sorotan.
“ Islam juga mengenal satu bentuk jihad yang tidak memiliki panggung sebesar itu. Ia berlangsung jauh dari sorotan. Hampir tidak pernah dicatat dalam sejarah. Dan sering kali tidak ada siapa pun yang menyaksikannya,” tulisnya.
Fadhil menyebutkan, perjuangan itu sesungguhnya terjadi di dalam diri manusia. Ramadan setiap tahun, kata dia, membawa manusia memasuki ruang perjuangan batin yang sunyi.
Sejak fajar hingga matahari terbenam, seorang Muslim menahan sesuatu yang sebenarnya sangat dekat dengannya, seperti makan, minum, dan berbagai dorongan yang biasanya dipenuhi tanpa banyak pertimbangan.
Ia menjelaskan, menariknya dalam situasi tersebut semua kebutuhan itu tetap tersedia. Makanan dan minuman tetap ada, bahkan tidak ada yang benar-benar melarang seseorang untuk makan ketika sendirian. “Namun ia tetap menunggu,” tulisnya.
Di situlah, lanjut Fadhil, puasa memperlihatkan maknanya yang lebih dalam. Puasa bukan sekadar ibadah yang mengatur tubuh, melainkan latihan yang menyentuh kesadaran manusia tentang dirinya sendiri.
Ia mengutip firman Allah SWT dalam Al-Qur’an:
“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”
(QS. Al-Baqarah: 183)
Menurutnya, ayat tersebut menunjukkan bahwa lapar bukanlah tujuan utama dari puasa. Lapar hanya menjadi jalan menuju tujuan yang lebih mendalam, yakni takwa.
Takwa sering dipahami sebagai rasa takut kepada Tuhan. Namun dalam pengalaman spiritual Islam, takwa juga berarti kesadaran yang hidup di dalam hati bahwa manusia memiliki batas dan tidak semua keinginan harus diikuti.
Fadhil menilai, puasa membuat kesadaran itu terasa nyata. Saat lapar datang di tengah hari, seseorang merasakan kuatnya dorongan untuk memenuhi kebutuhan tubuhnya. Namun ia belajar menahan diri, bukan karena makanan tidak tersedia, melainkan karena ada sesuatu yang lebih penting dari sekadar rasa kenyang.Di saat itulah seseorang mulai melihat dirinya dengan lebih jernih.
Ia juga mengutip ayat lain dalam Al-Qur’an yang mengingatkan manusia tentang perspektif kehidupan yang lebih luas:
“Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah permainan dan senda gurau. Sedangkan negeri akhirat itulah kehidupan yang sebenarnya, sekiranya mereka mengetahui.”
(QS. Al-‘Ankabut: 64)
Menurutnya, ayat tersebut menempatkan puasa dalam kerangka yang lebih besar.
Ketika seseorang menahan diri dari sesuatu yang sebenarnya halal baginya, ia sedang belajar memandang hidup dengan sudut pandang yang berbeda.
Di tengah dunia yang serba cepat, hampir semua keinginan manusia dapat dipenuhi dengan segera. Makanan dapat datang dalam hitungan menit dan hiburan hadir di layar yang selalu berada di tangan.
Namun Ramadan justru memperlambat ritme tersebut.
Lapar datang tetapi tidak langsung dipenuhi, haus terasa namun ditahan, dan berbagai keinginan muncul tanpa harus selalu diikuti.
“Dalam jeda kecil itulah manusia bertemu dengan dirinya sendiri,” tulisnya.
Sebagian ulama, lanjut Fadhil, menyebut perjuangan melawan diri sendiri sebagai salah satu bentuk jihad yang paling berat. Bukan karena manusia adalah musuh bagi dirinya, tetapi karena dorongan dalam diri manusia tidak pernah benar-benar berhenti.
Puasa tidak mematikan dorongan itu, tetapi membantu manusia melihatnya dengan lebih jelas.
Karena itu, Ramadan bukan sekadar bulan ibadah yang dipenuhi ritual. Ia menjadi waktu khusus setiap tahun bagi manusia untuk berhenti sejenak dan menata kembali arah hidupnya.
Menurut Fadhil, setiap kali seseorang mampu menahan diri dari sesuatu yang sebenarnya bisa ia lakukan, sebuah kemenangan kecil sedang terjadi di dalam hatinya.
“Sering kali arah hidup seseorang justru dibentuk oleh kemenangan-kemenangan sunyi yang hanya ia ketahui sendiri, dan yang disaksikan oleh Allah SWT,” tulisnya.

















