Ramadan dan Jihad yang Paling Sunyi

Dirman

Oplus_16908288

BULUKUMBA, Beranda.News-Bulan suci Ramadan tidak hanya dimaknai sebagai waktu menahan lapar dan dahaga, tetapi juga sebagai momentum refleksi diri dan perjuangan batin yang sering luput dari perhatian.

Hal itu diungkapkan oleh Muhammad Fadhil dalam tulisannya berjudul Ramadhan dan Jihad yang Paling Sunyi.

Ia menjelaskan bahwa ketika orang mendengar kata jihad, bayangan yang muncul biasanya identik dengan perjuangan besar yang dramatis, seperti keberanian di medan perang atau pengorbanan para sahabat dan ulama dalam menjaga ilmu serta kebenaran.

Namun, menurutnya, Islam juga mengenal bentuk jihad lain yang jauh dari sorotan.

“ Islam juga mengenal satu bentuk jihad yang tidak memiliki panggung sebesar itu. Ia berlangsung jauh dari sorotan. Hampir tidak pernah dicatat dalam sejarah. Dan sering kali tidak ada siapa pun yang menyaksikannya,” tulisnya.

Fadhil menyebutkan, perjuangan itu sesungguhnya terjadi di dalam diri manusia. Ramadan setiap tahun, kata dia, membawa manusia memasuki ruang perjuangan batin yang sunyi.

Sejak fajar hingga matahari terbenam, seorang Muslim menahan sesuatu yang sebenarnya sangat dekat dengannya, seperti makan, minum, dan berbagai dorongan yang biasanya dipenuhi tanpa banyak pertimbangan.

Ia menjelaskan, menariknya dalam situasi tersebut semua kebutuhan itu tetap tersedia. Makanan dan minuman tetap ada, bahkan tidak ada yang benar-benar melarang seseorang untuk makan ketika sendirian. “Namun ia tetap menunggu,” tulisnya.

Di situlah, lanjut Fadhil, puasa memperlihatkan maknanya yang lebih dalam. Puasa bukan sekadar ibadah yang mengatur tubuh, melainkan latihan yang menyentuh kesadaran manusia tentang dirinya sendiri.

Ia mengutip firman Allah SWT dalam Al-Qur’an:
“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”

(QS. Al-Baqarah: 183)
Menurutnya, ayat tersebut menunjukkan bahwa lapar bukanlah tujuan utama dari puasa. Lapar hanya menjadi jalan menuju tujuan yang lebih mendalam, yakni takwa.
Takwa sering dipahami sebagai rasa takut kepada Tuhan. Namun dalam pengalaman spiritual Islam, takwa juga berarti kesadaran yang hidup di dalam hati bahwa manusia memiliki batas dan tidak semua keinginan harus diikuti.

Fadhil menilai, puasa membuat kesadaran itu terasa nyata. Saat lapar datang di tengah hari, seseorang merasakan kuatnya dorongan untuk memenuhi kebutuhan tubuhnya. Namun ia belajar menahan diri, bukan karena makanan tidak tersedia, melainkan karena ada sesuatu yang lebih penting dari sekadar rasa kenyang.Di saat itulah seseorang mulai melihat dirinya dengan lebih jernih.

Ia juga mengutip ayat lain dalam Al-Qur’an yang mengingatkan manusia tentang perspektif kehidupan yang lebih luas:

“Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah permainan dan senda gurau. Sedangkan negeri akhirat itulah kehidupan yang sebenarnya, sekiranya mereka mengetahui.”

(QS. Al-‘Ankabut: 64)
Menurutnya, ayat tersebut menempatkan puasa dalam kerangka yang lebih besar.

Ketika seseorang menahan diri dari sesuatu yang sebenarnya halal baginya, ia sedang belajar memandang hidup dengan sudut pandang yang berbeda.

Di tengah dunia yang serba cepat, hampir semua keinginan manusia dapat dipenuhi dengan segera. Makanan dapat datang dalam hitungan menit dan hiburan hadir di layar yang selalu berada di tangan.
Namun Ramadan justru memperlambat ritme tersebut.

Lapar datang tetapi tidak langsung dipenuhi, haus terasa namun ditahan, dan berbagai keinginan muncul tanpa harus selalu diikuti.

“Dalam jeda kecil itulah manusia bertemu dengan dirinya sendiri,” tulisnya.

Sebagian ulama, lanjut Fadhil, menyebut perjuangan melawan diri sendiri sebagai salah satu bentuk jihad yang paling berat. Bukan karena manusia adalah musuh bagi dirinya, tetapi karena dorongan dalam diri manusia tidak pernah benar-benar berhenti.

Puasa tidak mematikan dorongan itu, tetapi membantu manusia melihatnya dengan lebih jelas.

Karena itu, Ramadan bukan sekadar bulan ibadah yang dipenuhi ritual. Ia menjadi waktu khusus setiap tahun bagi manusia untuk berhenti sejenak dan menata kembali arah hidupnya.

Menurut Fadhil, setiap kali seseorang mampu menahan diri dari sesuatu yang sebenarnya bisa ia lakukan, sebuah kemenangan kecil sedang terjadi di dalam hatinya.

“Sering kali arah hidup seseorang justru dibentuk oleh kemenangan-kemenangan sunyi yang hanya ia ketahui sendiri, dan yang disaksikan oleh Allah SWT,” tulisnya.

Popular Post

BERITA

Sadis! Pasutri Lansia di Bulukumba Dihajar Tetangga Pakai Balok, Tulang Patah Dan Luka Sobek

BULUKUMBA, BERANDA.NEWS– Sepasang suami istri lanjut usia di Desa Polewali, Kecamatan Gantarang, Kabupaten Bulukumba, menjadi korban penganiayaan yang diduga dilakukan ...

BERITA

Desakan Penutupan Pabrik Porang di Bululumba Muncul, Sam Prakoso: Pemerintah Jangan Mencoba Khianati Petani

BULUKUMBA, Beranda.News – Meningkatnya desakan dari sejumlah pihak untuk menutup pabrik porang di Kabupaten Bulukumba mendapat respons dari Ketua Majelis ...

HEADLINENASIONAL

Warga Bulukumba Jadi Korban Penipuan DP Rumah Subsidi BTN Tiara Residen

Bulukumba, Beranda .News– Seorang warga Desa Caramming, Kecamatan Bontotiro, bernama Ical, mengaku menjadi korban penipuan dalam proses pembelian rumah subsidi ...

HEADLINENASIONAL

Puluhan Desa di Bulukumba Akan Diperiksa Kejaksaan Terkait Program Ketahanan Pangan

Bulukumba, Beranda.News – Kejaksaan Negeri Bulukumba kembali melanjutkan pemeriksaan terhadap penggunaan dana desa di sejumlah wilayah. Pemeriksaan ini merupakan bagian ...

BERITA

Muallim Tampa Racing Team Sabet Juara Umum di SSCP Bira 2025

BULUKUMBA, Beranda.News— Muallim Tampa Racing Team berhasil keluar sebagai juara umum dalam ajang Sulsel Super Championship Prix (SSCP) yang digelar ...

BERITA

A. Aswad Salam Jadi Kanit Tipiter, Aktivis HMI: Angin Segar bagi Bulukumba

Bulukumba,Beranda.News-Rotasi yang dilakukan Kapolres Bulukumba pada sejumlah unit di Satuan Reserse Kriminal mendapat apresiasi, khususnya penunjukan A. Aswad Salam akrab ...

Tinggalkan komentar