BULUKUMBA,Beranda.News – Tanaman porang yang dulunya tumbuh liar di kebun kini menjadi sumber penghasilan menjanjikan bagi warga Kecamatan Kindang, Kabupaten Bulukumba.
Tanaman ini mulai dilirik petani sejak 2011 dengan harga sekitar Rp1.500 per kilogram. Saat ini, harga porang melonjak hingga Rp11 ribu per kilogram.
Diketahui umbi porang ternyata diolah menjadi bahan pangan seperti beras dan tepung. Kenaikan harga tersebut mendorong petani beralih menanam porang, bahkan sebagian mampu meraih pendapatan hingga ratusan juta rupiah dalam satu kali panen.

Also Read

Salah satu petani di Desa Tamaona, Jafar, mengaku porang kini menjadi penopang ekonomi keluarganya. Ia menyebut, menjual tiga umbi porang sudah cukup memenuhi kebutuhan satu hingga dua hari.
“Alhamdulillah, porang sangat membantu karena cengkeh sudah lama tidak berbuah. Jual tiga umbi saja sudah cukup untuk kebutuhan sehari-hari,” ujarnya, Sabtu (18/4/2026).
Menurutnya, satu umbi porang rata-rata memiliki berat 2 hingga 7 kilogram. Jika dihitung, tiga umbi dengan rata-ratakan 3 kilogram per biji menghasilkan sekitar Rp99 ribu.
Tidak hanya umbi, bagian lain seperti katak (umbi kecil) dan spora juga memiliki nilai jual. Saat ini, harga katak dan spora mencapai Rp120 ribu per kilogram, dengan satu pohon mampu menghasilkan puluhan hingga ratusan butir.
Jafar menambahkan, budidaya porang tergolong mudah dan tidak memerlukan biaya besar. Petani cukup menggunakan pupuk kandang dan membersihkan area tanam secara berkala.
Melihat potensi tersebut, warga berharap adanya perhatian dari pemerintah, khususnya bantuan bibit porang. Mereka menilai porang layak masuk dalam program ketahanan pangan karena dapat diolah menjadi bahan makanan pokok.
Saat ini, kebutuhan bibit porang di kalangan petani terus meningkat seiring tingginya minat masyarakat untuk membudidayakan tanaman tersebut.















