Beranda.News- Publik dikejutkan dengan lonjakan harga bahan pangan jelang akhir 2021 dan belum turun di awal tahun bulan Januari 2022.
Rata-rata kenaikan harga pangan mencapai 0,55 persen dari November 2021, lebih tinggi dari prediksi Bank Indonesia (BI) yang sebesar 0,49 persen pada Desember 2021.
Kelompok pekerja kelas menengah jadi yang paling dirugikan akibat lonjakan harga sembako ini. Sebab di sisi lain, masyarakat kelas bawah masih terbantu dengan adanya penyaluran bansos, meski belum merata.

Also Read
Seperti yang ada di Pasar Tramo, Maros, untuk harga cabai rawit merah sendiri mencapai Rp80.000/kg dari harga biasanya hanya mencapai Rp15.000-Rp30.000/kg.
Sama halnya dengan cabai besar yang mencapai harga Rp40.000/kg dari harga normal hanya berkisar Rp30.000/kg. Sementara bawang merah, cabai kriting, tomat hingga bawang putih masih normal.
“Saya juga tidak tahu persis penyebabnya, mungkin disebabkan karena perubahan cuaca dan adanya cuaca buruk yang terjadi” kata Ela pedagang sembako di Pasar Tramo Maros
Selain itu, telur juga mengalami kenaikan yang cukup drastis, untuk satu rak telur ayam ras mencapai Rp 50.000/rak dengan ukuran sedang tentu jauh berbeda dengan harga sebelumnya yang hanya mencapai Rp 30.000- Rp 38.000/raknya.
Kenaikan harga bahan pangan tidak unik terjadi di Indonesia. Ini merupakan fenomena global, yang terjadi di seluruh dunia.
“Akan tetapi masuknya tahun baru di bulan januari ini harga bahan pokok masih belum turun dan masih belum bisa kembali ke harga normalnya”. Kata Rizal pedagang di pasar Tramo Maros.
Masyarakat masih sangat khawatir terhadap kenaikan bahan pangan yang belum bisa mencapai harga normalnya kembali, masyarakat khawatir apabila bahan pangan tetap terus-menerus naik, maka akan susah untuk turun dan nanti akan mengakibatkan kenaikan bahan-bahan pangan lain dan bahan baku lainnya.
Penulis : Nurul Wardah Salsabilah, mahasiswa UIN Alauddin Makassar

















