Jakarta, Beranda.News- Nilai tukar rupiah ditutup melemah ke level Rp17.184 per dolar AS pada perdagangan Rabu (22/4) sore. Mata uang Garuda turun 98,1 poin atau 0,57 persen dibandingkan hari sebelumnya.
Pelemahan rupiah sejalan dengan pergerakan mayoritas mata uang Asia yang tertekan terhadap dolar AS. Peso Filipina dan ringgit Malaysia ikut melemah, sementara yuan Tiongkok hanya menguat tipis.
Di sisi lain, beberapa mata uang Asia mencatat penguatan. Dolar Singapura, yen Jepang, dan won Korea Selatan naik tipis, sedangkan dolar Hong Kong terkoreksi sangat kecil.

Also Read
Mata uang negara maju bergerak bervariasi. Euro, poundsterling Inggris, dolar Australia, dolar Kanada, dan franc Swiss sama-sama menguat terhadap dolar AS.
Pengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi menyebut pelemahan rupiah dipengaruhi faktor eksternal dan domestik. Dari eksternal, penguatan dolar AS dipicu ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah, termasuk rencana gencatan senjata Amerika Serikat dan Iran yang belum jelas.
Kondisi tersebut berdampak pada jalur distribusi energi global, khususnya di Selat Hormuz yang menjadi jalur utama sekitar 20 persen pasokan minyak dan gas dunia. Situasi ini meningkatkan kekhawatiran pelaku pasar.
Dari dalam negeri, tekanan berasal dari kebutuhan pembiayaan pemerintah pada 2026. Utang jatuh tempo mencapai Rp833,96 triliun, yang kerap disebut sebagai “tembok utang”.
Sementara itu, Bank Indonesia mempertahankan suku bunga acuan di level 4,75 persen guna menjaga stabilitas nilai tukar di tengah tekanan global.
Ibrahim memperkirakan pergerakan rupiah masih fluktuatif dan cenderung melemah pada perdagangan berikutnya, dengan kisaran Rp17.180 hingga Rp17.220 per dolar AS.














