BULUKUMBA,Beranda.News — Kualitas pembangunan talud pada ruas Jalan Poros Bontomanai–Kindang menuai sorotan warga. Pekerjaan tersebut dinilai tidak layak karena campuran material yang digunakan diduga tidak sesuai standar, terutama pada komposisi semen dan pasir yang disebut menyerupai tanah.
Sorotan itu disampaikan oleh tokoh masyarakat setempat, Karaeng Abe. Ia mengaku bersyukur karena akses jalan akhirnya dikerjakan pemerintah, namun menegaskan bahwa kualitas pekerjaan harus menjadi prioritas utama.
“Kami senang jalan kami dikerja, tapi kalau kualitasnya tidak bagus, kami tidak terima karena jalan ini mau dipakai lama,” ujar Karaeng Abe, Minggu (8/2/2026).

Also Read
Ia berharap pihak pengawas proyek segera turun langsung ke lokasi untuk melihat kondisi pekerjaan yang masih berlangsung. Menurutnya, perbaikan harus segera dilakukan agar mutu pembangunan tidak terus menurun hingga proyek selesai.
“Pekerjaan ini masih berjalan, jadi pengawas harus cepat turun supaya kesalahan tidak berlanjut,” tambahnya.
Pembangunan talud yang dinilai tidak layak tersebut berada di wilayah perbatasan Desa Tamaona–Kindang, Kecamatan Kindang
Selain masalah campuran material, pemuda Desa Tamaona, Pungsa, juga menyoroti proses penggalian pondasi talud yang dinilainya dilakukan secara asal-asalan.
“Saya lihat pekerja hanya mengejar cepat selesai. Penggalian pondasinya tidak dalam, sehingga dudukan batu tidak kuat dan berpotensi ambruk ke depan,” ungkap Pungsa.
Iapun berharap pihak pelaksana dan pengawas proyek segera melakukan evaluasi menyeluruh agar pembangunan talud benar-benar berkualitas dan dapat dimanfaatkan dalam jangka panjang. Harapnya
Sekadar diketahui, proyek pembangunan ruas Jalan Bontomanai–Kindang bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) dengan nilai anggaran lebih dari Rp 46 miliar. Pekerjaan ini dilaksanakan oleh kontraktor PT Te’ne Jaya, dengan konsultan pengawas PT Indec Internusa KSO–PT Global Profex Sinergi.














